jump to navigation

Tabungan, Masihkan diminati? Januari 19, 2010

Posted by syairdunk in Uncategorized.
trackback
MENABUNG. Satu kata kerja yang mudah dikatakan, namun praktiknya acap masih saja sulit dilakukan, apalagi secara rutin.

Selain motivasi setiap orang untuk menabung sangat beragam, juga karena kemampuan bagi sebagian besar masyarakat yang masih terbatas. Mengingat beberapa bagian dari penghasilan atau pendapatan yang diperoleh saat ini harus disimpan, untuk digunakan kemudian pada lain waktu, sesuai kebutuhan atau untuk keperluan tidak terduga.

Dari sekian banyak cara menabung, menabung pada lembaga keuangan seperti perbankan telah menjadi pilihan utama bagi masyarakat selama ini. Berbeda misalnya dengan cara menabung pada zaman baheula, yang merasa cukup aman menyimpan uangnya di rumah, baik itu disimpan pada celengan gerabah, maupun di bawah bantal atau kasur.

Pergeseran pola masyarakat untuk menabung tersebut, diakui pula telah mengembangkan bisnis perbankan. Di antara tiga layanan produk perbankan itu, tabungan tergolong bentuk produk yang paling populer dan dikenal luas masyarakat, dibandingkan deposito dan giro. Selain persyaratan yang relatif mudah seperti cukup dengan mengisi aplikasi dan melampirkan identitas diri seperti KTP, SIM, paspor, atau kartu identitas lainnya, juga dana awal tabungan yang disetorkan ke bank relatif kecil. Belum lagi, beberapa fasilitas yang ditawarkan bank cukup menarik, baik kemudahan transaksi, proteksi asuransi maupun program berhadiah.

Meski begitu, tingkat bunga produk tabungan ini umumnya relatif kecil ketimbang bunga deposito dan giro. Bahkan sejumlah pengamat maupun konsultan keuangan mengakui, “salah satu kelemahan produk tabungan karena tingkat bunga yang rendah”. Apalagi bagi nasabah yang memiliki nilai saldo terbatas, karena bunga tabungan yang seharusnya diperoleh lebih rendah dibandingkan biaya administrasi atau potongan pajak. Sehingga, nasabah tidak mendapatkan bunga, malah saldonya terus berkurang akibat beberapa potongan tersebut.

**

SEBUTLAH Ny. Ena, ibu rumah tangga, yang bingung karena saldo tabungannya di bank secara perlahan terus berkurang. Meski, tergolong pasif menabung (kadang menabung, kadang tidak), Ny. Ena yang baru saja beberapa bulan menjadi nasabah pada salah satu bank swasta nasional ini, awalnya tidak terlalu peduli dengan posisi saldo tiap bulannya.

Namun, karena ada potongan biaya administrasi termasuk biaya ATM (anjungan tunai mandiri) setiap bulan dengan saldo rata-rata yang terbatas sekira Rp 1 juta, saldo tabungannya terus berkurang. Bunga tabungan yang seharusnya ia peroleh, terpotong beberapa biaya administrasi. “Padahal, saya tergolong jarang simpan atau ngambil uang tabungan,” katanya.


Uniknya, setelah mengetahui penyebab saldo tabungannya itu berkurang, Ny. Ena tidak melakukan apa-apa. Sedikit berbeda dengan Lucky, pegawai instansi pemerintah. Dia sama sekali tidak peduli dengan raihan bunga tabungan yang kecil dan setiap bulan terkena potongan biaya administrasi serta pajak tabungan. Karena, motivasinya menabung bukan mengejar bunga, tapi lebih untuk kemudahan melakukan transaksi sehari-hari lewat ATM. “Kalau nabung untuk investasi dan bisa meraih return, saya simpan di deposito yang bunganya lebih tinggi,” katanya.

Lain lagi halnya Beng-beng, mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi swasta Bandung, yang nyaris tidak merasakan manfaat menjadi nasabah tabungan. Pasalnya, uang bulanan yang dikirim orangtuanya dari luar kota dan ia simpan pada tabungannya menjadi berkurang karena terpotong beban biaya administrasi. “Sebagai anak kos yang belum punya penghasilan, cukup berat juga nyimpen uang untuk kebutuhan sehari-hari di bank. Tapi, mau kemana lagi saya simpan uangnya, kalau tidak di bank,” tuturnya.

Apa yang dialami oleh beberapa nasabah tersebut, mungkin contoh kecil dari sekian banyak nasabah tabungan selama ini. Mereka tampaknya tidak memiliki alternatif lain untuk menyimpan dananya di bank, apalagi dengan nominal saldo yang terbatas. Terbukti, mereka akhirnya hanya mengandalkan “insentif” atau kompensasi pelayanan lain yang ditawarkan bank, selain faktor keamanan juga kemudahan melakukan sejumlah transaksi keuangan.

**

UMUMNYA bank yang juga lembaga bisnis tentu membutuhkan biaya operasional untuk mendukung usahanya tersebut. Ini tampak jelas, di antaranya dari beban biaya administrasi yang dibebankan kepada para nasabah tabungan selama ini.

Dari pengamatan “PR” baru-baru ini pada beberapa bank milik swasta dan pemerintah di Kota Bandung misalnya, yang menerapkan biaya administrasi, bunga tabungan dan setoran awal minimum yang cukup beragam. Beberapa contoh bank ini hanya untuk memberikan gambaran secara umum besarnya biaya administrasi, bunga tabungan, dsb., yang berlaku.

Tahapan BCA contohnya, biaya administrasi ditetapkan sesuai dengan kartu ATM yang dimiliki nasabah. Biaya administrasi bagi nasabah yang memegang ATM “Silver” Rp 7.500,00/bulan, ATM “Gold” Rp 10.000,00/bulan dan ATM “Platinum” Rp 15.000,00/bulan. Kemudian, ada pajak tabungan sebesar 20% dari bunga tabungan.

Sedangkan bunga tabungan, ditetapkan sesuai saldo nasabah dan dihitung berdasarkan bunga harian. Untuk saldo rata-rata kurang dari Rp 500.000,00 tidak mendapat bunga (0%). Saldo Rp 1 – 5 juta, bunganya 2%/tahun. Saldo diatas Rp 5 juta dan hingga Rp 1 miliar, bunganya 4,25%/tahun, dst. Adapun, setoran awalnya Rp 500.000,00 dan selanjutnya minimum Rp 50.000,00.

Selain itu, Bank BRI melalui tabungan Britama dan Simpedes. Biaya administrasi bulanan tabungan Britama misalnya, ditetapkan Rp 5.000,00 dan bagi nasabah yang memiliki ATM dikenakan lagi biaya Rp 3.000,00. Kemudian tabungan Simpedes, bagi nasabah yang saldonya di bawah Rp 3 juta terkena biaya administrasi Rp 1.000,00 – Rp 4.500,00/bulan. Dan bagi nasabah yang saldonya di atas Rp 3 juta terkena biaya administrasi Rp 5.000,00/bulan.

Sedangkan bunga tabungannya, berkisar 3,5 – 5%/ tahun. Namun, bagi saldo rata-rata yang di atas Rp 7,5 juta akan terkena pajak sebesar 20% dari bunga tabungan. Perbedaan kedua jenis tabungan BRI ini di antaranya terlihat dari setoran awalnya, tabungan Britama Rp 200.000,00 dan tabungan Simpedes Rp 100.000,00

Sementara Permata Tabungan di Bank Permata, biaya administrasi bulanannya tergantung saldo tabungan. Misal saldo di bawah Rp 500.000,00 dikenai biaya administrasi Rp 7.500,00 dan saldo di atas Rp 500.000,00 dikenai biaya administrasi Rp 5.000,00. Ditambah lagi bagi nasabah yang memegang ATM dikenai pula biaya Rp 2.500,00.

Bunga Tabungan Permata cukup bervariasi, saldo di bawah Rp 1 juta tidak mendapat bunga (0%), saldo antara Rp 1 juta hingga kurang dari Rp 10 juta (bunganya 2%/tahun), saldo antara Rp 10 juta hingga kurang dari Rp 100 juta (bunganya 3%/tahun), saldo antara Rp 100 juta hingga kurang dari Rp 250 juta (bunganya 3,5%/tahun), dan saldo lebih dari Rp 250 juta (bunganya 4%/tahun). Adapun, setoran awal minimum Tabungan Permata Rp 250.000,00 dan setoran selanjutnya Rp 50.000,00. (Ivan W./ “PR”)***

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: