jump to navigation

METODOLOGI RISET Desember 30, 2008

Posted by syairdunk in Edukasi.
trackback

A. Filosofi Paradigma Metodologi Riset

Suatu pengetahuan dibangun berdasarkan asumsi-asumsi filosofi tertentu. Asumsi-asumsi tersebut dalah ontologi, epistimologi, hakikat manusia, dan metodologi. Ontologi berhubungan dengan hakikat atau sifat dari realitas atau objek yang akan diinvestigasi. Epistimologi berhubungan dengan sifat dari ilmu pengetahuan, bentuk dari ilmu pengetahuan tersebut dan bagaimana mendapatkan serta menyebarkannya.

Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, Burrel dan Morgan (1979) mengelompokkan pengetahuan dalam tiga paradigma yaitu :

  1. Paradigma Fungsionalis

Sering disebut juga dengan fungsionalis struktural atau kontijensi rasional. Paradigma ini merupakan paradigma yang umum dan bahkan sangat dominan digunakan dalam riset akuntansi dibandingkan dengan paradigma yang lain, sehingga disebut juga dengan paradigma utama. Secara ontologi, paradigma utama ini sangat dipengaruhi oleh realitas fisik yang menganggap bahwa realitas objektif berada secara bebas dan terpisah di luar diri manusia. Realitas diukur, dianalisis, dan digambarkan secara objektif.

Pemahaman tentang realitas akan mempengaruhi bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan yang benar. Secara epistemologi, akuntansi utama melihat realitas sebagai realitas materi yang mempunyai suatu keyakinan bahwa ilmu pengetahuan akuntansi dapat dibangun dengan rasio dan dunia empiris. Berdasarkan pada keyakinan tersebut, peneliti akuntansi utama sangat yakin bahwa satu-satunya metode yang dapat digunakan untuk membangun ilmu pengetahuan akuntansi adalah metode ilmiah. Suatu penjelasan dikatakan ilmiah apabila memenuhi tiga komponen, yaitu :

  1. Memasukkan satu atau lebih prinsip-prinsip atau hukum umum
  2. Mengandung prakondisi yang biasanya diwujudkan dalam bentuk pernyataan-pernyataan hasil observasi.
  3. Memiliki satu pernyataan yang menggambarkan sesuatu yang dijelaskan.
  1. Paradigma Interpretif

Terdapat dua perbedaan antara paradigma fungsionalis dengan interpretif. Perbedaan pertama adalah bahwa paradigma interpretif memusatkan perhatian tidak hanya pada bagaimana membuat perusahaan berjalan dengan baik, tetapi juga bagaimana menghasilkan pemahaman yang luas dan mendalam mengenai bagaimana manajer dan karyawan dalam organisasi memahamii akuntansi, berpikir tentang akuntansi serta berinteraksi dan menggunakan akuntansi. Perbedaan kedua adalah bahwa para interaksionis tidak percaya pada keberadaan realitas organisasi yang tunggal dan konkret, melainkan pada situasi yang ditafsirkan organisasi dengan caranya masing-masing. Yang lebih penting lagi adalah bahwa pemahaman mereka menjadi nyata karena mereka bertindak untuk suatu peristiwa dan situasi atas dasar makna pribadinya.

  1. Paradigma Strukturalisme Radikal

Aliran alternatif lainnya adalah strukturalis radikal yang mempunyai kesamaan dengan fungsionalis, yang mengasumsikan bahwa sistem sosial mempunyai keberadaan ontologis yang konkret dan nyata. Pendekatan ini memfokuskan pada konflik mendasar sebagai dasar dari produk hubungan kelas dan struktur pengendalian, serta memperlakukan dunia sosial sebagai objek eksternal dan memiliki hubungan terpisah dari manusia tertentu.

  1. Paradigma Humanis Radikal

Riset-riset akan diklasifikasikan dalam paradigma humanis radikal jika didasarkan pada teori kritis dari Frankfur Schools dan Habermas. Pendekatan kritis ini melihat objek studi sebagai suatu interaksi sosial yang disebut dengan dunia kehidupan, yang diartikan sebagai interaksi berdasarkan pada kepentingan kebutuhan yang melekat dalam diri manusia dan membantu untuk pencapaian saling memahami. Interaksi sosial dalam dunia kehidupan dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :

a. Interaksi yang mengikuti kebutuhan sosial alami, misalnya kebutuhan akan sistem informasi manajemen.

b. Interaksi yang dipengaruhi oleh mekanisme sistem, misalnya pemilihan sistem yang akan dipakai atau konsultan mana yang diminta untuk merancang sistem bukan merupakan interaksi sosial yang alami karena sudah mempertimbangkan berbagai kepentingan.

B. Peluang Riset Akuntansi Keperilakuan pada Lingkungan Akuntansi

Dengan secara khusus menelaah riset akuntansi keperilakuan sebelumnya dapat diperoleh suatu kerangka analisis dan diskusi yang dibatasi pada peluang, terutama pada hasil potensi subbidang dan implikasinya untuk subbidang akuntansi yang lain.Beberapa subbidang akuntansi di antaranya :

· Audit

Suatu tinjauan audit atas artikel akuntansi keperilakuan selama tahun 1990-1991 menunjukkan penekanan pada kekuatan dalam pembuatan keputusan yang merupakan karakteristik dari sebagian besar riset akuntansi keperilakuan. Libby dan Frederick (1990) seara persuasif menjelaskan pentingnya pemahaman mengenai bagaimana variabel-variabel psikologi seperti pembelajaran, pengetahuan faktual, dan prosedural, serta pengaruh memori dalam pembuatan keputusan.

Riset audit menyarankan suatu hubungan yang kompleks antara pengalaman dan kinerja yang belum dipahami dengan baik. Sementara riset yang dikembangkan dalam audit, sebagai contoh, hubungan kemampuan dan peran latar belakang, merupakan aspek dari hubungan antara pengalaman dan kinerja yang hanya memperoleh sedikit perhatian dan penerimaan dalam literatur audit. Sementara, riset akuntansi keperilakuan dalam bidang manajerial telah dipelajari dengan lebih rinci.

· Akuntansi Keuangan

Beberapa publikasi menunjukkan bahwa riset akuntansi keperilakuan dalam bidang akuntansi keuangan jumlahnya terbatas sehingga sulit untuk didefinisikan. Beberapa bukti menunjukkan bahwa terbatasnya pemrosesan informasi yang tidak mendorong lebih banyak dilakukannya riset akuntansi keperilakuan merupakan pertanyaan yang menarik. Secara jelas, pentingnya riset akuntansi keuangan yang berbasis pasar modal dibandingkan dengan audit menunjukkan kurang kuatnya permintaan eksternal terhadap riset akuntansi keperilakuan dalam bidang keuangan, yang oleh sebagian besar kantor akuntan publik dijadikan alasan untuk tidak melakukan diskusi yang lebih lanjut.

· Akuntansi Manajemen

Analisis ini pada awalnya menunjukkan bahwa riset akuntansi keperilakuan dalam bidang akuntansi manajemen merupakan pertimbangan yang lebih luas dibandingkan dengan riset yang sama dalam akuntansi keuangan, dan memungkinkan pencerminan tradisi lama yang berbeda dari riset akuntansi keperilakuan dalam bidang audit. Variabel organisasional dan lingkungan mempunyai pengaruh yang penting terhadap perilaku organisasional dan perilaku individu dalam organisasi.

Riset akuntansi keperilakuan dalam bidang akuntansi manajemen cenderung fokus pada variabel lingkungan dan organisasional yang mengandalkan teori agensi, seperti insentif dan variabel asimetri informasi. Sementara, riset akuntansi keperilakuan dalam bidang audit lebih fokus pada variabel psikologi, khususnya kesadaran.

· Sistem Informasi Akuntansi

Keterbatasan riset akuntansi keperilakuan dalam bidang sistem informasi akuntansi adalah kesulitan untuk membuat generalisasi, meskipun berdasarkan pada studi sistem akuntansi yang lebih awal sekalipun. Adalah jelas bahwa desain sistem mempengaruhi penggunaan informasi. Informasi akan mendorong penggunaan keunggulan teknologi saat ini, seperti pencitraan data, jaringan, dan akses data dinamis melalui sistem pengoperasian menyarankan pertimbangan atas peluang riset akuntan keperilakuan dalam bidang sistem akuntansi.

C. Perkembangan Terakhir

Wawasan dalam riset akuntansi keperilakuan saat ini bisa diperoleh dengan dua cara, yaitu :

1. Survei publikasi utama dari riset akuntansi keperilakuan.

2. Klasifikasi topik artikel yang dipublikasikan dan pemetaan publikasi terhadap model perilaku individu.

Jurnal-jurnal umumnya dipilih karena merupakan jurnal yang paling banyak meneribitkan bagian riset ini dengan metodologi yang terbuka untuk seluruh objek akuntansi. Accounting, Organzation, and Society merupakan jurnal yang cenderung memfokuskan isinya pada riset akuntansi keperilakuan, meskipun jurnal tersebut juga menerbitkan jenis riset lainnya. Dalam periode sekarang audit merupakan riset keperilakuan yang paling banyak diterbitkan dalam Behaviorial Research in Accounting. Selanjutnya, urutan berikutnya diduduki oleh bidang akuntansi manajemen yang hampir mencapai seperempat dari total penerbitan, sementara sisanya merupakan subbidang lainnya.

D. Teori Keperilakuan tentang Perusahaan

Teori organisasi modern mempunyai kaitan dengan perilaku perusahaan sebagai suatu kesatuan terhadap pemahaman kegiatan perusahaan dan alasan anggotanya. Bila dipastikan bahwa bisnis, tanpa mempedulikan besar kecilnya, biasanya dipandang sebagai milik dari pemegang saham yang perhatiannya lebih terfokus pada dimensi-dimensi keuangan, yang berputar di sekitar harga saham dan berada di luar lingkup keputusan.

Untuk menguraikan bagaimana perusahaan mengadopsi seperangkat tujuan dan bagaimana perusahaa mengawali penyesuaian dan pencapaian memerlukan suatu pemahaman yang mendasar atas keputusan dan proses penyelesaian masalah dengan pasti. Agar lebih spesifik, teori modern perusahaan terkait dengan arah tujuan perilaku yang dipastikan berkaitan dengan tujuan, motivasi, dan karakteristik menyelesaikan masalah anggota-anggotanya.

Akhirnya pengambilan keputusan perusahaan, proses menyelesaikan masalah struktur organisasi, pembagian kerja, penggunaan prosedur standar operasional, dan seterusnya diruaikan sebagai fungsi peserta yang menyelesaikan masalah perilaku yang ditandai oleh pembatasan kapasitas mereka secara rasional. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah bahwa perusahan dapat dipandang sebagai suatu keseimbangan dalam mencari sistem pengambilan keputusan. Komposisi tujuan dapat berubah dari waktu ke waktu, tetapi proses tingkat penyesuaian harus mengikuti beberapa aturan. Jalannya operasional perusahaan dibatasi oleh tingkat sampai sejauh mana kapasitas penyelesaian masalah dalam pengembalian informasi.

E. Wawasan untuk Masa Depan

Masalah utama di masa mendatang adalah bahwa pendanaan untuk riset ini akan berkurang jumlahnya. Kantor Akuntan Publik yang termasuk dalam “The big 6” di AS saat ini kurang mendukung riset akademik dibandingkan di masa lau. Banyak universitas yang pada umumnya memiliki pengalaman pencatatan anggaran akan menunjukkan penurunan sumber yang memberikan dukungan terhadap riset. Karena riset keperilakuan saat ini cenderung menjadi lebih mahal dibandingkan dengan apa yang bisa diusahakan oleh akuntan, maka akan terasa lebih sulit untuk melakukan pekerjaan tersebut. Sikap dan pandangan dari beberapa pengusaha yang mempunyai anggapan kurang positif terhadap kegiatan riset ini juga berpengaruh, karena mereka tidak selalu memiliki pengetahuan yang cukup untuk memahami bahwa kegiatan para praktisi merupakan bagian dari kemampuan aplikasi hasil riset.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: